SEMARANG — Langkah progresif dilakukan Pemerintah Kota Semarang dengan menjadikan TPA Jatibarang sebagai lokasi utama pembangunan PSEL (Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik). Proyek ini menjadi tonggak penting dalam transisi menuju ekonomi hijau di Jawa Tengah.
Wali Kota Agustina Wilujeng mengatakan, Pemkot siap menjadi pionir dalam mendukung kebijakan Presiden Prabowo terkait energi terbarukan berbasis pengelolaan sampah.
“PSEL adalah bentuk nyata Semarang menuju green energy city. Kita ubah sampah jadi sumber daya listrik,” ucapnya.
Kota Semarang menghasilkan sekitar 1.000 ton sampah setiap hari. PSEL akan membantu mengurangi timbunan tersebut sekaligus menghasilkan energi bersih.
Agustina menyebut Pemkot sudah menyiapkan dukungan infrastruktur berupa pembangunan IPAL, sanitary landfill, dan instalasi gas metana.
Selain itu, pemerintah mengalokasikan Rp50 miliar untuk memperluas area pembuangan 11 hektar.
Direktur Pengelolaan B3 KLH, Firdaus Alim Damopoli, menilai kesiapan Semarang sangat matang. “Kami sudah verifikasi lapangan, dan semua aspek teknis terpenuhi. Semarang layak jadi kota model PSEL,” katanya.
Menurutnya, potensi lokasi Jatibarang strategis karena dekat dengan sumber air dan jalur distribusi energi.
Firdaus menambahkan, proyek ini mendukung komitmen Indonesia mencapai net zero emission 2050 dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Agustina menyebut, keberadaan PSEL juga akan membuka peluang investasi hijau di sektor energi. “Kita ingin Semarang menjadi magnet investasi ramah lingkungan,” jelasnya.
Pemkot berencana menggandeng PLN, BUMN, dan mitra internasional dalam tahap pembangunan dan pengelolaan operasional.
Selain manfaat lingkungan, proyek ini juga diharapkan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengelolaan sampah dan energi.
“Ini bukan hanya soal listrik, tapi tentang masa depan ekonomi hijau Indonesia,” tutup Agustina.
Reporter: Ismu Puruhito

