SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang membuktikan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat. Setelah kecelakaan bus di Exit Tol Gandulan, Pemalang, Wali Kota Agustina Wilujeng langsung menginstruksikan langkah tanggap darurat berupa pengiriman ambulans dan penyiapan fasilitas medis bagi korban.
“Begitu laporan masuk, kami langsung gerak. Empat ambulans dikirim sore itu juga,” jelas Agustina.
Ia menegaskan bahwa Pemkot Semarang memiliki mekanisme tanggap darurat untuk memastikan warganya mendapatkan pertolongan secepat mungkin, termasuk di luar wilayah administratif kota.
Agustina menjelaskan, RSD K.R.M.T. Wongsonegoro dan RSUD Mijen disiagakan untuk menampung korban jika diperlukan rujukan lanjutan. “Kami siapkan fasilitas dan tenaga medis terbaik,” katanya.
Pemkot juga berkoordinasi dengan BPBD, Dinas Kesehatan, dan Jasa Raharja agar penanganan korban berlangsung komprehensif.
“Korban luka mendapat prioritas penanganan. Semua biaya akan difasilitasi lewat Jasa Raharja dan BPJS, sedangkan yang belum terdaftar ditanggung lewat program UHC,” ujarnya.
Kecelakaan tersebut menelan empat korban jiwa dari total 34 penumpang bus yang berangkat ke Guci, Tegal. Pemerintah turut membantu proses pemulangan jenazah agar segera sampai di rumah duka di Bendan Ngisor.
“Ini bentuk tanggung jawab kami sebagai pelayan masyarakat,” tegas Agustina.
Selain bantuan medis, Pemkot juga mengirim petugas pendamping untuk memastikan setiap korban mendapatkan dukungan logistik dan pendampingan sosial.
“Bantuan tidak berhenti di rumah sakit. Kami akan kawal hingga mereka benar-benar pulih,” katanya.
Menurut data, seluruh korban kini berada di tiga rumah sakit di Pemalang dengan penanganan intensif.
Agustina mengucapkan terima kasih kepada pihak rumah sakit, aparat kepolisian, dan relawan yang sigap membantu proses evakuasi.
“Semoga kerja sama ini menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah bisa saling membantu lintas batas,” ujarnya.
Reporter: Ismu Puruhito

