SEMARANG – Infrastruktur olahraga Jawa Tengah masih menjadi sorotan dalam menjaga keberlanjutan prestasi. Hal ini mencuat dalam diskusi Siwo PWI Jateng bertema “Menjaga Prestasi Olahraga Jawa Tengah” yang digelar di Hotel Noormans, Semarang, Selasa (9/9/2025).
Hadir sebagai narasumber Kadisporapar Jateng Muhamad Masrofi, Wakil Ketua II KONI Jateng Soedjatmiko, anggota Komisi E DPRD Jateng Abdul Hamid, serta Ketua Umum PBSI Jateng Basri Yusuf.
Masrofi mengakui bahwa pemerintah daerah sudah mengalokasikan APBD untuk pembinaan dan penghargaan atlet, namun ketersediaan venue representatif masih minim. “Kita butuh fasilitas yang standar agar atlet bisa berlatih dan bersaing di level nasional,” jelasnya.
Soedjatmiko menambahkan, strategi SWOT KONI menunjukkan salah satu kelemahan terbesar Jawa Tengah ada pada sarana prasarana. “Kualitas atlet kita bagus, tapi terbatasnya venue menghambat optimalisasi potensi,” ujarnya.
Abdul Hamid menyoroti pentingnya sinergi anggaran untuk membangun ekosistem olahraga sehat. Menurutnya, pembibitan atlet usia dini akan sulit berkembang tanpa fasilitas latihan yang memadai.
Basri Yusuf juga menekankan perlunya venue olahraga modern untuk menunjang pelatihan berbasis sains dan teknologi. “Tanpa fasilitas yang sesuai, mustahil atlet bisa berprestasi konsisten,” katanya.
Diskusi yang dipandu Ismu Puruhito ini dibuka oleh Ketua KONI Jateng Bona Ventura Sulistiana. Ia menegaskan pentingnya penguatan infrastruktur sebagai bagian dari strategi menjaga prestasi pasca PON XXI.
Ketua PWI Jateng Amir Machmud juga menilai pertemuan ini relevan dengan agenda Musorprov KONI. “Isu venue harus masuk dalam pembahasan strategis, karena prestasi tidak hanya soal atlet, tetapi juga tempat mereka berlatih,” ujarnya.
Dengan keterbatasan venue saat ini, Pemprov Jateng didorong mencari solusi kreatif, mulai dari revitalisasi fasilitas lama hingga kerja sama swasta.
Reporter: Ismu Puruhito

