SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah mencatat prestasi gemilang sebagai daerah dengan serapan tenaga kerja tertinggi di Indonesia. Data triwulan I 2025 menunjukkan 97.550 orang berhasil terserap ke berbagai sektor industri, terutama kulit dan alas kaki yang menyerap 36.754 pekerja.
Gubernur Ahmad Luthfi menyebut capaian ini sebagai buah dari derasnya investasi yang masuk ke Jateng. “Investasi bukan hanya membuka lapangan kerja formal, tapi juga memicu pertumbuhan ekonomi informal di sekitarnya,” katanya saat meninjau Kawasan Industri Kendal.
Ia mencontohkan, munculnya warung, kos-kosan, hingga ojek di sekitar kawasan industri merupakan multiplier effect dari masuknya tenaga kerja. “Ini yang memperkuat ekonomi masyarakat bawah,” ujarnya.
Penurunan angka pengangguran pun tercatat signifikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jateng turun menjadi 4,33 persen pada Februari 2025, dari 4,39 persen setahun sebelumnya.
Kepala Disnakertrans Jateng, Ahmad Aziz, menambahkan bahwa dukungan dari berbagai program turut mendongkrak capaian tersebut. Mulai dari job fair, aplikasi Ayo Kerjo, hingga pelatihan kerja di 37 BLK yang melatih 40 ribu orang per tahun.
Aplikasi Ayo Kerjo kini telah diakses hampir 800 ribu kali, dengan 181 ribu pelamar dan ribuan perusahaan terdaftar. “Ini menjadi jembatan digital antara pencari kerja dan penyedia lapangan kerja,” kata Aziz.
Selain dalam negeri, lowongan kerja luar negeri juga terus dibuka. Negara tujuan meliputi Jepang, Korea, Singapura, hingga Uni Eropa. Gaji yang ditawarkan pun bervariasi, mulai Rp10 juta hingga Rp25 juta.
Meski demikian, Aziz mengakui masih ada mismatch antara pencari kerja dan lowongan yang tersedia. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat lebih realistis dan siap memenuhi standar perusahaan.
Dengan strategi investasi plus fasilitasi tenaga kerja, Pemprov Jateng optimistis tren positif ini berlanjut. “Kita ingin angka pengangguran terus ditekan, dan kesejahteraan warga meningkat,” pungkas Luthfi.
Reporter : Ismu Puruhito

