BENAHI PENDIDIKAN: Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat acara "Ngopi Bareng" di Hotel Quest Jumat (19/9) lalu. Foto: Ist.

Agustina: Pendidikan Inklusif Jadi Prioritas dalam RPJMD 2025–2029

SEMARANG – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa pendidikan inklusif akan menjadi salah satu prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029. Hal itu ia sampaikan dalam forum Ngopi Bareng Stakeholder Pendidikan bertema “Pendidikan Inklusif” yang digelar di Quest Hotel, Jumat (19/9).

Menurut Agustina, pendidikan inklusif merupakan fondasi penting untuk menciptakan kota yang adil dan setara bagi seluruh anak. “Pendidikan adalah kunci kemajuan sebuah kota. Pendidikan inklusif memberi kesempatan bagi semua anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, untuk berkembang sesuai potensinya,” jelasnya.

Pemkot Semarang, lanjutnya, siap menyiapkan anggaran dan program inovatif untuk mendukung keberagaman minat dan bakat anak-anak. “Kalau ada anak istimewa yang suka olahraga, seni, atau musik, kita siapkan ruang kompetisi dan dukungan agar mereka bisa berprestasi,” ucapnya.

Ia juga menyoroti perlunya pembenahan sistem pendidikan yang selama ini masih cenderung seragam. Lulusan SMK, misalnya, menurutnya harus benar-benar siap menghadapi dunia kerja. “Kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan industri,” tambahnya.

Agustina menegaskan, pendidikan tidak bisa dipandang hanya dari sisi sekolah. Kesehatan, sosial, dan perlindungan anak juga harus masuk dalam satu kesatuan ekosistem pendidikan inklusif.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bambang Pramusinto, mengingatkan bahwa sesuai Peraturan Wali Kota Nomor 76 Tahun 2020, seluruh sekolah wajib menerima anak berkebutuhan khusus. “Tidak boleh ada penolakan, ini adalah amanah kebijakan,” tegasnya.

Bambang juga menyebutkan bahwa Pemkot tengah menyiapkan langkah konkret untuk memperbanyak guru bersertifikat pendidikan khusus, sekaligus meningkatkan sarana-prasarana sekolah.

Acara tersebut turut melibatkan DPRD, Dewan Pendidikan, PGRI, KKKS, Sub Rayon SMP, hingga LSM. Kehadiran lintas elemen ini menjadi bukti komitmen kolektif membangun Semarang sebagai kota pendidikan inklusif.

Dengan komitmen kuat, Pemkot optimistis bisa menekan angka kesenjangan pendidikan sekaligus melahirkan generasi unggul yang berdaya saing.

Reporter: Ismu Puruhito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Share via
Copy link