PEREMAJAAN: Pemkot Semarang berupaya keras mengatasi banjir di antaranya dengan terus memantau kondisi pompa. Foto: Ist.

Wamen PUPR Dukung Percepatan Rejuvenasi Pompa Banjir di Semarang

SEMARANG — Upaya Pemerintah Kota Semarang memperkuat sistem pengendalian banjir mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Wakil Menteri PUPR Diana Kusumastuti meninjau langsung rumah pompa dan kolam retensi di kawasan Tenggang, Sringin, Unissula, dan Terboyo, Sabtu (8/11), memastikan pekerjaan berjalan sesuai target.

Diana menegaskan, langkah peremajaan pompa dan normalisasi kolam retensi yang dilakukan Pemkot Semarang merupakan bagian dari upaya nasional membangun sistem pengendalian banjir pantura yang komprehensif.
“Harapannya, semua pekerjaan ini selesai akhir tahun agar penanganan banjir semakin efektif,” katanya.

Menurut Diana, koordinasi antara pusat dan daerah menjadi kunci agar program pengendalian banjir berjalan berkelanjutan. Ia menyebut, sinergi yang dibangun Pemkot Semarang patut diapresiasi karena melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang Suwarto menjelaskan progres revitalisasi pompa di Rumah Pompa Tenggang sudah mencapai tahap signifikan.
“Tiga pompa sudah aktif, tiga sisanya dalam proses. Jika semua selesai, total kapasitasnya mencapai 12.000 liter per detik,” ujarnya, Selasa (11/11).

Selain itu, di Rumah Pompa Sringin, empat dari lima unit telah diganti baru, sementara satu unit terakhir segera menyusul. Target penyelesaian ditetapkan pada November 2025.

Pemkot juga fokus menyiapkan pengerukan kolam retensi Muktiharjo tahun 2026 agar kapasitas tampung air tetap terjaga. Langkah ini dinilai penting karena retensi menjadi titik utama pencegahan genangan di wilayah timur kota.

Proyek peremajaan juga mencakup Rumah Pompa Waru dan Muktiharjo Kidul, yang saat ini tengah menunggu unit baru. Pompa lama sementara digunakan agar sistem tetap berjalan.

Suwarto menegaskan bahwa semua langkah ini adalah bagian dari peta jalan pengendalian banjir jangka menengah yang sudah terintegrasi dengan rencana tata ruang Kota Semarang.

Wamen PUPR Diana menilai model integrasi antara pompa, retensi, dan saluran sekunder menjadi contoh baik bagi daerah lain di pantura Jawa.
“Semarang menunjukkan bahwa dengan kolaborasi kuat, masalah banjir bisa dikendalikan tanpa menunggu bencana datang,” jelasnya.

Pemkot juga berencana menambahkan sistem sensor dan digitalisasi pengawasan pompa agar penanganan lebih cepat dan transparan.

Dengan dukungan pusat, Semarang diharapkan mampu menjadi kota pelabuhan yang tangguh terhadap bencana hidrometeorologi sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakatnya. (*)

Reporter: Ismu Puruhito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Share via
Copy link