SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang mulai mengimplementasikan langkah strategis jangka panjang dalam menghadapi bencana banjir yang kerap melanda kawasan timur kota. Salah satunya melalui penambahan pompa air berkapasitas 1.000 liter per detik yang akan segera dioperasikan
Wali Kota Agustina Wilujeng mengatakan, kebijakan ini bukan hanya untuk merespons banjir saat ini, tetapi juga sebagai bagian dari perencanaan infrastruktur pengendalian air terintegrasi. “Kita ingin sistem yang kuat dan berkelanjutan, bukan hanya solusi sementara,” katanya.
Agustina menegaskan, penguatan sistem pompa akan disertai dengan optimalisasi saluran drainase dan pembangunan kolam retensi baru.
“Kita sudah menyiapkan lokasi tambahan untuk embung dan kolam retensi. Targetnya tahun depan sistem pengendalian banjir bisa jauh lebih efektif,” jelasnya.
Ia mengakui, curah hujan tinggi dan kondisi geografis membuat Semarang perlu langkah teknis yang matang. “Topografi kita unik, karena ada dataran tinggi dan rendah yang berdekatan. Ini butuh solusi terintegrasi,” tambahnya.
Sementara itu, Pemkot mencatat penurunan jumlah warga terdampak dari 32.000 menjadi 28.000 jiwa. Posko terpadu dan dapur umum juga sudah beroperasi di berbagai titik.
“Kami ingin memastikan semua kebutuhan dasar warga tercukupi. Tidak boleh ada yang tertinggal,” ujarnya.
Kerugian ekonomi akibat banjir diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah, namun Pemkot optimistis pemulihan bisa lebih cepat berkat koordinasi lintas sektor.
“Kalau mobilitas pulih dan kegiatan ekonomi kembali berjalan, maka dampak jangka panjang bisa ditekan,” tegasnya.
Dengan kolaborasi yang erat antara pemerintah pusat, provinsi, dan masyarakat, Agustina yakin Semarang akan menjadi kota tangguh terhadap bencana.
“Banjir bukan akhir, tapi pelajaran untuk membangun sistem yang lebih baik,” pungkasnya.

