SEMARANG — Banjir yang melanda sejumlah kawasan di Kota Semarang beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius Pemerintah Kota. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, langsung menginstruksikan seluruh jajarannya, mulai dari camat hingga lurah, untuk siaga penuh dan aktif memantau kondisi lapangan.
“Tidak boleh ada yang menunggu laporan. Semua harus turun langsung, bantu warga,” tegas Agustina, Kamis (23/10).
Ia menyebutkan, keselamatan dan kenyamanan masyarakat menjadi prioritas utama. Pemerintah berupaya memastikan seluruh fasilitas pengendalian banjir bekerja optimal, termasuk 25 unit pompa yang tersebar di empat kawasan utama kota.
Di beberapa titik seperti Kaligawe dan Waru, petugas bekerja bergantian memastikan pompa beroperasi penuh selama 24 jam. “Kami ingin banjir segera surut dan warga bisa beraktivitas normal kembali,” ujarnya.
Agustina menjelaskan, meski beberapa pompa masih dalam perbaikan, Pemkot tidak tinggal diam. Satu unit pompa besar dari Kandang Kebo dipindahkan ke Waru untuk memperkuat daya serap air.
Langkah cepat ini dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum, BPBD, serta Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana. “Kita bergerak bersama. Tidak ada sekat antara instansi, semua bekerja untuk warga,” katanya.
Pemerintah juga mendirikan posko siaga dan dapur umum di sejumlah titik banjir. Relawan, TNI, dan Polri turut membantu proses evakuasi bagi warga yang terdampak.
“Kami juga sediakan layanan kesehatan keliling agar warga terdampak tetap terpantau kesehatannya,” tambah Agustina.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, namun tidak panik. “Lapor segera jika ada kendala. Pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat,” tuturnya.
Selain penanganan teknis, Pemkot juga menyiapkan langkah pascabanjir seperti pembersihan lingkungan dan pemberian bantuan logistik.
“Banjir bukan hanya tentang air, tapi tentang kehidupan warga. Karena itu, semua unsur pemerintah harus sigap,” tegasnya.
Dengan gotong royong dan kesiapsiagaan semua pihak, Agustina optimistis Semarang mampu melewati musim hujan dengan aman.
Reporter: Ismu Puruhito

