SEMARANG — Upaya Pemerintah Kota Semarang mengatasi masalah kesehatan mental remaja kini semakin inovatif. Lewat kolaborasi dengan RSWN, KNPI, dan Fakultas Psikologi UNDIP, diluncurkan Program PIJAR (Pemuda Peduli dan Jaga Kesehatan Mental Remaja), dengan pendekatan berbasis digital.
Direktur RSWN, dr. Eko Krisnarto, Sp.KK, menyebutkan bahwa pihaknya telah mengembangkan alat skrining berbasis aplikasi bernama “Sultan Mataram”, yang bisa diakses melalui MyRSWN di Playstore.
“Ini bukan sekadar teknologi, tapi alat untuk menyelamatkan generasi muda. Dengan sistem digital, siswa bisa melakukan skrining secara mandiri,” jelasnya.
Data hingga September 2025 mencatat, lebih dari 6.000 pelajar di Semarang telah mengikuti skrining ini, dan 720 di antaranya memerlukan pendampingan psikolog.
Wali Kota Agustina Wilujeng menilai langkah tersebut sebagai bentuk modernisasi pelayanan publik di bidang kesehatan jiwa. “Pemerintah harus hadir mengikuti zaman. Teknologi bisa menjadi pintu masuk empati,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa media sosial menjadi faktor dominan yang memengaruhi pola pikir dan emosi remaja. “Validasi sosial di dunia maya sering kali menciptakan tekanan mental,” ucapnya.
Ketua KNPI Kota Semarang, Yohana Citra Mahardika, menjelaskan bahwa pihaknya siap menjadi fasilitator antara siswa dan layanan kesehatan mental digital.
“Kami akan membantu sosialisasi aplikasi Sultan Mataram di sekolah-sekolah agar digunakan secara optimal,” katanya.
Fakultas Psikologi UNDIP turut berperan dalam mengadaptasi algoritma skrining menjadi lebih ramah pengguna. “Kami ingin pendekatan ilmiah tetap humanis,” ujar CVR Abimanyu, S.Psi., M.Psi.
Peluncuran program ini juga dibarengi seminar bertajuk Scroll With Care, yang menyoroti pengaruh media sosial terhadap perilaku remaja.
Menurut Agustina, kolaborasi ini adalah bentuk nyata semangat Semarang Smart City di bidang kesehatan publik. “Teknologi bukan musuh, tapi mitra untuk kebaikan,” tegasnya.
Pemerintah menargetkan skrining digital ini menjangkau seluruh sekolah menengah di Semarang dalam dua tahun ke depan.
“PIJAR adalah investasi sosial yang akan menentukan masa depan kota ini,” pungkas Agustina.
Reporter: Ismu Puruhito

