SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang terus menggencarkan edukasi partisipasi publik melalui Lapor Semarang Goes to School. Kali ini, program yang masuk Volume II itu digelar di SMP IT PAPB Semarang, Rabu (24/9), dengan melibatkan perwakilan 61 sekolah menengah pertama.
Program ini hadir untuk memperluas pemahaman pelajar terhadap fungsi kanal layanan publik, terutama Call Center 112. Data Diskominfo menunjukkan, panggilan iseng atau prank call masih menjadi masalah serius dengan proporsi 38,58 persen dari total panggilan pada tahun 2025.
“Sebagian besar prank call ternyata dilakukan oleh anak-anak muda. Mereka mungkin hanya iseng, padahal akibatnya bisa fatal bagi orang lain yang benar-benar butuh pertolongan,” ujar Sub Koordinator Pengelolaan Aspirasi dan Informasi, Wulan Asih Setyarini.
Selain mengedukasi soal 112, kegiatan ini juga mengenalkan kanal Lapor Semar Solusi AWP dan SAVIRA. Semua kanal tersebut diharapkan menjadi sarana efektif menyampaikan aspirasi, melapor masalah pelayanan, maupun mengakses informasi publik.
Kepala SMP IT PAPB, Ramelan, mengatakan kegiatan ini sangat penting untuk menumbuhkan tanggung jawab sosial generasi Z. “Anak-anak perlu belajar sejak dini bagaimana memanfaatkan layanan publik secara etis,” ucapnya.
Salah satu peserta, Fero dari SMP Karangturi, mengaku senang mendapatkan ilmu baru. “Saya jadi tahu kemana harus melapor kalau ada masalah pelayanan. Setelah ini akan saya bagikan ke teman-teman,” katanya.
Acara menghadirkan tiga narasumber dari PPID, Lapor Semar Solusi AWP, dan Command Center 112. Para siswa mendapat kesempatan mencoba simulasi panggilan darurat serta latihan pelaporan digital.
Antusiasme peserta terlihat tinggi. Mereka aktif berdiskusi mengenai kasus-kasus nyata yang pernah terjadi di sekitar mereka. Hal ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya layanan publik.
Wulan menyebut program ini akan terus berlanjut hingga jenjang SMA bahkan komunitas. “Partisipasi warga harus tumbuh dari generasi muda. Ini bukan hanya tentang 112, tapi juga soal keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi warganya,” jelasnya.
Dengan melibatkan pelajar, Pemkot Semarang berharap dapat mencetak agen perubahan yang mampu menyebarkan informasi di lingkungannya.
Program ini juga selaras dengan target nasional mewujudkan smart city yang partisipatif, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Reporter: Ismu Puruhito

